⟵ Back to Stories
EST. 1914

Tugu Kunstkring Palais

English

One of the most iconic heritage buildings in the Menteng district is Kunstkring, located on Teuku Umar Street in the Gondangdia area. Originally known as the Bataviasche Kunstkring (Batavia Art Circle), the institution was inaugurated by the Governor-General of the Dutch East Indies, A.W.F. Idenburg, in April 1914. The building was designed by the Dutch architect Pieter Moojen in the Art Nouveau style, making it one of the most distinctive architectural achievements among the colonial-era buildings in Menteng, Central Jakarta.

Pieter Moojen was a prominent Dutch architect who introduced new architectural approaches to the Dutch East Indies by integrating vernacular principles into his designs, taking into account local climate, materials, and human resources. Beyond its architectural significance, the Bataviasche Kunstkring served as the central institution overseeing art circles in several major colonial cities, including Bandung, Surabaya, and Semarang. It organized a wide range of cultural programs, such as music and theatre performances. During the 1920s and 1930s, the institution expanded its activities to include exhibitions of fine art, which were typically held on the second floor of the building.

In addition to its architectural importance, the Bataviasche Kunstkring occupies a significant place in the history of Indonesian art. Many prestigious exhibitions featuring internationally renowned artists were held there, establishing the venue as one of the leading art institutions of its time. In 1937, for example, the Kunstkring presented works from the collection of P.A. Regnault, including paintings by Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Marc Chagall, Kees van Dongen, and other influential European artists. These exhibitions profoundly influenced the development of modern Indonesian art, particularly the work of S. Sudjojono, who would later become one of Indonesia's most important modern painters.

The exclusivity of the Bataviasche Kunstkring was reflected not only in its architecture and highly selective exhibition program but also in its audience policies. Visitors were required to purchase an entrance ticket costing approximately 25 Dutch East Indies cents (gulden), wear formal European attire, and possess at least a working knowledge of the Dutch language. Such requirements reinforced the institution's elite status and positioned exhibitions at the Kunstkring as prestigious cultural events primarily attended by the colonial upper class.

A newspaper report published in the Dutch East Indies in 1938 announced the exhibition of S. Sudjojono's painting Children and a Cat alongside works by the European artist Frida Holleman. This marked a significant milestone in the history of Indonesian art, as it represented one of the earliest occasions on which an Indigenous Indonesian artist was given the opportunity to exhibit at the Bataviasche Kunstkring. Sudjojono subsequently emerged as a leading figure in Indonesia's modern art movement.

A further landmark occurred on 7 May 1941, when Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia / Association of Indonesian Drawing Experts)—the pioneering organization of modern Indonesian artists founded in part by S. Sudjojono—was granted the opportunity to hold an exhibition at the Bataviasche Kunstkring. Approximately sixty works were exhibited by artists including Agus Djaya, Abdoelsalam, Raden Agoes Djajasoeminta, Herbert Hoetagaloeng, Iton Lasmana, Sjoeaib Sastradiwirja, Raden Soediardjo, S. Soedjojono, G.A. Soekirno, Raden Mas Soemitro, Raden Mas Soeromo, Raden Mas Soerono, Rameli, S. Toetoer, and Emlria Soenassa Wama'na Poetri Al'alam.

The Persagi exhibition at the Bataviasche Kunstkring became one of the defining milestones in the emergence of modern Indonesian art. It demonstrated that Indigenous Indonesian artists were capable of standing on equal footing with their European counterparts within the field of fine arts. Contemporary newspapers in the Dutch East Indies even described several Persagi exhibitors as self-taught artists, highlighting the remarkable achievements they attained despite lacking formal European academic training.

Bahasa Indonesia

Satu di antara bangunan ikonik di wilayah Menteng adalah Kunstkring. Terletak di Jalan Teuku Umar, kawasan Gondangdia, Menteng, bangunan ini dulu dikenal sebagai Bataviasche Kunstkring, yang artinya Lingkaran Seni Batavia yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Belanda A.W. Frederick Idenburg pada April 1914. Arsitek yang dipercaya membangun Kunstkring adalah Pieter Moojen, dengan gaya art nouveau yang merupakan satu di antara pencapaiannya yang paling unik di antara karya-karya bangunan lainnya yang berada di wilayah Menteng, Jakarta Pusat. Pieter Moojen sendiri adalah arsitek asal Belanda yang dikenal membawa pembaharuan arsitektur di Hindia Belanda pada masa itu, dengan ide-ide desain yang berbasis pada potensi vernakular, seperti sumber daya manusia dan iklim dalam mendesain sebuah bangunan. Bataviasche Kunstkring sendiri adalah lembaga yang membawahi lingkaran seni di kota lain seperti Bandung, Surabaya, dan Semarang. Bataviasche Kunstkring sendiri banyak membuat program-program kesenian, seperti musik, teater, dan pada periode 1920-an, dan pada tahun 1930-an gedung tersebut memulai program pameran karya-karya seni rupa, yang biasa berlangsung di lantai dua gedung Bataviasche Kunstkring.

Selain merupakan bangunan yang ikonik, gedung Bataviasche Kunstkring juga menyimpan narasi-narasi masa lalu tentang seni yang sama-sama ikonik. Beberapa pameran besar dan karya-karya penting dunia pernah dipamerkan di gedung yang kini menjadi restoran berkelas. Pada periode tersebut, pameran yang diadakan di Bataviasche Kunstkring menjadi barometer seni pada masanya. Beberapa pameran karya-karya dunia yang penting di antaranya adalah karya seni rupa koleksi P.A. Regnault, seperti Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Marc Chagall, Kees van Dongen, dan seniman penting lainnya, pada tahun 1937. Pameran karya-karya dunia ini sangat mempengaruhi seniman modern Indonesia yang penting, S. Sudjojono.

Kesan eksklusif Bataviasche Kunstkring bukan saja terlihat pada bangunan dan kurasi karya-karya seni rupa yang dianggap penting dan boleh berpameran di Bataviasche Kunstkring, tetapi mereka juga mengkurasi penonton yang datang dengan cara seperti membayar tiket masuk sekitar 25 sen Gulden, berpakaian formal ala Eropa, serta setidaknya penonton mampu berbahasa Belanda. Hal ini membuat seniman yang berpameran di Bataviasche Kunstkring semakin bergengsi, semacam rekreasi para elite Hindia Belanda pada masanya.

Dalam sebuah pemberitaan salah satu media massa di Hindia tahun 1938, Bataviasche Kunstkring mengumumkan karya S. Sudjojono, berjudul "Children and a Cat", bersama karya seniman Eropa Frida Holleman. Artinya, sebuah pencapaian artistik bagi sejarah seni rupa Indonesia, yang memberi tempat kepada kelompok pribumi untuk berpameran di Bataviasche Kunstkring. Dan nama di dalam bangunan yang menjadi perhatian adalah S. Sudjojono. Pelukis penting Indonesia ini mulai dikenal sebagai seniman modern pada masa itu. Di kemudian hari, pada 7 Mei 1941, Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia) yang merupakan organisasi seniman modern Indonesia masa itu, yang juga dipelopori oleh S. Sudjojono akhirnya mendapatkan kesempatan berpameran di Bataviasche Kunstkring. Ada sekitar 60 karya Persagi, dengan nama-nama seniman di antaranya Agus Djaya, Abdoelsalam, Raden Agoes Djajasoeminta, Herbert Hoetagaloeng, Iton Lasmana, Sjoeaib Sastradiwirja, Raden Soediardjo, S. Soedjojono, G. A. Soekirno, Raden Mas Soemitro, Raden Mas Soeromo, Raden Mas Soerono, Rameli, S. Toetoer, dan Emlria Soenassa Wama'na Poetri Al'alam. Pameran Persagi di Bataviasche Kunstkring menjadi satu di antara sejumlah tonggak seni modern Indonesia di kemudian hari, yang menetapkan bahwa kaum pribumi mampu berada di posisi setara di bidang seni, khususnya seni rupa, dengan seniman asing. Sebuah pemberitaan media di Hindia Belanda pada masa itu menyebut sebagian seniman Persagi yang berpameran di Bataviasche Kunstkring pada masa itu sebagai seniman otodidak.