⟵ Back to Stories
EST. 1968

Taman Ismail Marzuki

English

Jl. Cikini Raya 73
The history of Taman Ismail Marzuki (TIM) began with the relocation of the Raden Saleh Zoo from Cikini. As the zoo's collections of plants and animals continued to expand, the site in Cikini could no longer accommodate them. In 1964, during the administration of Jakarta Governor Dr. Soemarno, the Preparatory Committee for the Development of a New Zoo was established to oversee the relocation of the zoo to Ragunan, South Jakarta. The colonial-era zoo, known as Batavia's Planten en Dierentuin, which had been established in 1864, was gradually moved to Ragunan and officially reopened in 1966 as Ragunan Wildlife Park (Taman Margasatwa Ragunan) under Governor Ali Sadikin.

Before the former Cikini zoo site was transformed into an arts complex, President Soekarno inaugurated one of his major scientific initiatives there with the establishment of the Jakarta Planetarium and Observatory in 1964. Supported by the Indonesian Batik Cooperative Federation, which financed the purchase of a Carl Zeiss Universal Starball projector from East Germany, the Planetarium and Observatory officially opened to the public in May 1969. Earlier, in early 1968, Governor Ali Sadikin had proposed the creation of a dedicated arts center for Jakarta during the reopening ceremony of the renovated Balai Budaya on Jalan Gereja Theresia, Menteng. The idea soon developed further, and the former site of the Raden Saleh Zoo in Cikini was selected as the location for the Jakarta Arts Center.

Construction of the Jakarta Arts Center began in mid-June 1968, and on 10 November 1968, it was officially inaugurated under the name Taman Ismail Marzuki (TIM). The opening celebration lasted for ten days, during which Jalan Cikini Raya in front of TIM was temporarily closed to accommodate the large number of invited guests and visitors. The inauguration resembled a citywide arts festival, presenting an extraordinary range of performances—from modern theatre to traditional arts—including Lenong, a Betawi theatrical tradition that had previously received little recognition in Jakarta.

TIM was conceived not merely as a physical venue but also as the foundation of Jakarta's modern cultural ecosystem. Simultaneously, it became home to the Jakarta Arts Council (Dewan Kesenian Jakarta/DKJ) and the Jakarta Academy (Akademi Jakarta/AJ). In the 1970s, the Jakarta Institute of Arts Education (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta/LPKJ) was established there, later evolving into today's Jakarta Institute of the Arts (Institut Kesenian Jakarta/IKJ). Together, these institutions formed an integrated cultural complex centered on TIM as Jakarta's principal arts hub.

In its early years, TIM featured several distinctive performance venues, including the Arena Theatre, the Open-Air Theatre, and the Indoor Theatre. These spaces reflected the Jakarta Arts Council's commitment to accommodating both popular and experimental artistic practices. The Open-Air Theatre became an important venue for popular performances by artists who would later become nationally renowned. The legendary rock band God Bless held its first concert at TIM in 1973, while the comedy troupe Srimulat also gained early recognition through performances at the venue before achieving nationwide fame.

During its first decades, TIM emerged as Indonesia's leading cultural barometer. Beyond exhibitions, theatre, dance, and music performances, it became a vital site for artistic discourse, experimentation, and intellectual exchange that significantly shaped the development of Indonesian art history. As the country's foremost arts center, TIM also welcomed internationally acclaimed artists, including the world-renowned choreographer Pina Bausch, who performed there in 1974. In September 1971, Queen Juliana of the Netherlands also visited TIM as part of her official state visit to Indonesia.

One of the principal architects involved in designing TIM in 1968 was Ir. Tjong Pragantha. Before developing the complex, he conducted extensive research throughout Indonesia and studied performing arts facilities in Hawaii. Tjong described TIM's original design as a form of "continuous space architecture," emphasizing an interconnected plaza system inspired by Javanese and Balinese architectural traditions. This concept created an open landscape in which buildings were linked through uninterrupted public spaces.

Today, however, TIM has undergone a fundamental transformation. Following its major revitalization in 2019 under Governor Anies Baswedan, much of the original open landscape has disappeared. The architectural character of TIM no longer reflects the idea of continuous space, as the complex is now divided by numerous physical boundaries and enclosed connections between buildings, fundamentally altering the spatial experience envisioned in the original 1968 design.

Bahasa Indonesia

Jl. Cikini Raya 73
Sejarah Taman Ismail Marzuki (TIM) dimulai dengan pemindahan Kebun Binatang Raden Saleh dari Cikini. Karena koleksi tanaman dan hewan kebun binatang yang terus bertambah, lahan di Cikini tidak lagi memadai. Pada tahun 1964, di masa pemerintahan Gubernur Jakarta Dr. Soemarno, Panitia Persiapan Pembangunan Kebun Binatang Baru dibentuk untuk mengawasi pemindahan kebun binatang tersebut ke Ragunan, Jakarta Selatan. Kebun binatang era kolonial, yang dikenal sebagai Planten en Dierentuin Batavia dan telah berdiri sejak tahun 1864, dipindahkan secara bertahap ke Ragunan dan resmi dibuka kembali pada tahun 1966 sebagai Taman Margasatwa Ragunan di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin.

Sebelum bekas lahan kebun binatang Cikini diubah menjadi kompleks kesenian, Presiden Soekarno meresmikan salah satu inisiatif ilmiah besarnya di sana dengan mendirikan Planetarium dan Observatorium Jakarta pada tahun 1964. Didukung oleh Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), yang mendanai pembelian proyektor Carl Zeiss Universal Starball dari Jerman Timur, Planetarium dan Observatorium ini resmi dibuka untuk umum pada Mei 1969. Sebelumnya, pada awal tahun 1968, Gubernur Ali Sadikin telah mengusulkan pembuatan pusat kesenian khusus untuk Jakarta dalam acara peresmian kembali Balai Budaya yang telah direnovasi di Jalan Gereja Theresia, Menteng. Ide ini segera berkembang lebih jauh, dan bekas lokasi Kebun Binatang Raden Saleh di Cikini pun terpilih sebagai lokasi Jakarta Arts Center (Pusat Kesenian Jakarta).

Pembangunan Pusat Kesenian Jakarta dimulai pada pertengahan Juni 1968, dan pada 10 November 1968, tempat ini resmi diresmikan dengan nama Taman Ismail Marzuki (TIM). Perayaan pembukaannya berlangsung selama sepuluh hari, di mana Jalan Cikini Raya di depan TIM ditutup sementara untuk menampung banyaknya tamu undangan dan pengunjung. Peresmian tersebut menyerupai festival seni skala kota, menghadirkan berbagai pertunjukan luar biasa—dari teater modern hingga seni tradisional—termasuk Lenong, tradisi teater Betawi yang sebelumnya kurang mendapat pengakuan di Jakarta.

TIM dirancang bukan sekadar sebagai tempat fisik, melainkan sebagai fondasi ekosistem budaya modern Jakarta. Pada saat yang sama, tempat ini menjadi rumah bagi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Akademi Jakarta (AJ). Pada tahun 1970-an, didirikan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), yang kemudian berkembang menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang kita kenal sekarang. Bersama-sama, lembaga-lembaga ini membentuk kompleks budaya terintegrasi yang berpusat di TIM sebagai pusat kesenian utama Jakarta.

Pada tahun-tahun awalnya, TIM memiliki beberapa tempat pertunjukan yang khas, termasuk Teater Arena, Teater Terbuka, dan Teater Tertutup. Ruang-ruang ini mencerminkan komitmen Dewan Kesenian Jakarta untuk mewadahi praktik seni populer maupun eksperimental. Teater Terbuka menjadi tempat penting bagi pertunjukan populer dari seniman-seniman yang kelak menjadi sangat terkenal di tingkat nasional. Grup musik rock legendaris God Bless menggelar konser pertamanya di TIM pada tahun 1973, sementara grup lawak Srimulat juga mendapatkan pengakuan awal mereka melalui pertunjukan di tempat ini sebelum meraih ketenaran di seluruh negeri.

Selama dekade-dekade pertamanya, TIM tumbuh sebagai barometer budaya terkemuka di Indonesia. Selain pameran, pertunjukan teater, tari, dan musik, tempat ini menjadi ruang penting bagi diskursus seni, eksperimentasi, dan pertukaran intelektual yang secara signifikan membentuk perkembangan sejarah seni rupa Indonesia. Sebagai pusat seni terkemuka di Indonesia, TIM juga menyambut seniman-seniman ternama internasional, termasuk koreografer terkenal dunia Pina Bausch yang tampil di sana pada tahun 1974. Pada September 1971, Ratu Juliana dari Belanda juga mengunjungi TIM sebagai bagian dari kunjungan kenegaraan resminya ke Indonesia.

Salah satu arsitek utama yang terlibat dalam merancang TIM pada tahun 1968 adalah Ir. Tjong Pragantha. Sebelum merancang kompleks tersebut, ia melakukan penelitian mendalam di seluruh Indonesia dan mempelajari fasilitas seni pertunjukan di Hawaii. Tjong menggambarkan desain asli TIM sebagai bentuk "arsitektur ruang berkelanjutan" (continuous space architecture), yang menekankan sistem plaza yang saling terhubung dan terinspirasi oleh tradisi arsitektur Jawa dan Bali. Konsep ini menciptakan lanskap terbuka di mana bangunan-bangunan saling terhubung melalui ruang publik tanpa sekat.

Namun kini, TIM telah mengalami transformasi mendasar. Menyusul revitalisasi besar-besaran pada tahun 2019 di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan, sebagian besar lanskap terbuka yang asli telah lenyap. Karakter arsitektur TIM tidak lagi mencerminkan konsep ruang berkelanjutan, karena kompleks ini sekarang terbagi oleh berbagai batas fisik dan jalur penghubung tertutup antar bangunan, yang secara mendasar mengubah pengalaman spasial seperti yang dibayangkan dalam desain asli tahun 1968.