⟵ Back to Stories
EST. 1860

Rumah Raden Saleh

English

Near Cikini Hospital stands a grand mansion resembling a European castle—Raden Saleh's House, located on Jalan Raden Saleh in Cikini. In 1852, after spending twenty years in Europe, the renowned Indonesian painter Raden Saleh returned to the Dutch East Indies. He was appointed as a conservator of paintings for the colonial government, producing portraits and landscapes while also serving as court painter to the Javanese royal family. During a stay in Semarang, he met Christoffel Nicolaas Winckelhaagen, a wealthy young widow of German descent. The two later married and moved to Batavia, where they purchased a large estate in Cikini from Captain Antony Adriaanz.

Raden Saleh built his residence between 1857 and 1858, designing the house himself. He sought to recreate the memories of his nine-month stay at Callenberg Castle (Schloss Callenberg) in Germany, an experience that had left a profound impression on him. Inspired by the castle's architecture, he envisioned bringing a similar atmosphere to Batavia. Although Callenberg Castle displays an eclectic architectural style, it is predominantly influenced by the Gothic Revival (Neo-Gothic) movement.

The mansion reflected Raden Saleh's broader ambition to position himself on equal cultural footing with Europeans, particularly the Dutch. His years in Europe had extended far beyond artistic training. In addition to studying painting, he immersed himself in mathematics, geography, mechanics, and other scientific disciplines, cultivating a deep familiarity with European intellectual life. His marriage to a German woman and the decision to design his residence in a distinctly European style can be understood as part of this aspiration. Nevertheless, despite his remarkable achievements, colonial society continued to view Raden Saleh primarily through the lens of racial hierarchy.

Like many European castles, the house features decorative battlements along its roofline (entablature), directly inspired by Callenberg Castle. The building follows a formal, symmetrical composition, with a central focal point balanced by identical wings on either side. Neoclassical influences are visible in its Doric columns, heavy cornices, and the elegant French-style balustrades that adorn the balconies. The tall, imposing doors further reinforce the grandeur of the residence, while the spacious central hall functioned as a ballroom for social gatherings and formal receptions.

Raden Saleh's contribution to Jakarta extended well beyond architecture and painting. During the 1860s, the Batavia Society for Flora and Fauna (Cultuur Vereniging Planten en Dierentuin te Batavia) was searching for land to establish a botanical and zoological garden but was unable to secure a suitable site. In 1864, Raden Saleh donated the extensive grounds surrounding his residence to the society, enabling the establishment of Batavia's Botanical and Zoological Garden (Planten-en Dierentuin).

Over time, the garden evolved into far more than a scientific institution. In addition to its collections of plants and animals, it became a popular recreational destination featuring attractions such as amusement rides, a cinema, and cultural performances. One notable event was a staging of Oedipus Rex in August 1922, performed against an elaborate installation resembling a Greek temple.

In recognition of his generosity, Raden Saleh was honored as an honorary member of the society, and both his name and photograph appeared in the commemorative publication celebrating the 75th anniversary (1864–1939) of the Bataviasche Planten-en Dierentuin. During the Japanese occupation, the zoo was renamed Taman Raden Saleh.

In 1964, under the administration of Jakarta Governor Dr. Soemarno, preparations began to relocate the zoo to a larger site in Ragunan, South Jakarta. The move was completed in 1966, when Governor Major General Ali Sadikin officially inaugurated the new facility under its present name, Ragunan Wildlife Park (Taman Margasatwa Ragunan). The former estate of Raden Saleh thus remains a pivotal site in Jakarta's cultural and environmental history, connecting the legacy of Indonesia's pioneering modern painter with the origins of the city's first botanical and zoological garden.

Bahasa Indonesia

Di sekitaran Rumah Sakit Cikini, ada sebuah bangunan berbentuk seperti istana, dan bangunan tersebut adalah Rumah Raden Saleh, yang terletak di Jl. Raden Saleh, Cikini. Tahun 1852, sepulang dari residensi di Eropa selama 20 tahun, Raden Saleh kembali ke Indonesia, dan kemudian ia bekerja sebagai konservator lukisan pemerintahan kolonial, mengerjakan lukisan potret dan pemandangan, serta menjadi pelukis keluarga Kerajaan Jawa masa itu. Ketika berada di Semarang, ia berkenalan dengan seorang janda muda kaya keturunan Jerman, bernama Christoffel Nicolaas Winckelhaagen. Mereka kemudian akhirnya menikah dan pindah ke Jakarta, sampai kemudian membeli sebidang tanah di Cikini milik Capt. Antony Adriaanz.

Raden Saleh membangun rumah besar di Cikini pada 1857/1858, dan Ia mendesain sendiri rumahnya, karena ingin membawa pengalamannya semasa di Jerman selama 9 bulan, adalah pengalaman yang menyenangkan, khususnya saat ia sempat tinggal di di Callenberg Castle (Schloss Callenberg), dimana Ia ingin memindahkan pengalaman tersebut di Batavia. Callenberg Castle. secara umum berlanggam eklektik, namun sebagian besar memang dipengaruhi oleh langgam Gothic Revival/Neo Gothic. Ambisi Raden Saleh adalah ingin setara dengan Eropa, khususnya adalah orang Belanda. Pengalamanya semasa di Eropa, Ia bukan saja belajar melukis sebagaimana para seniman Eropa mempelajarinya. Ia juga mempelajari matematika, geografi, mekanika, dan ilmu pasti lainnya, dan menjadikannya merasa mengenal Eropa. Kemudian Raden Saleh menikahi orang Eropa Jerman, sampai mendesain rumahnya yang juga bergaya Eropa, sebagai usahanya untuk menjadi setara dengan orang Eropa. Namun nampaknya, kolonial Belanda sendiri masih memandang Raden Saleh.

Sebagaimana layaknya istana pada umumnya, Raden Saleh menambahkan detail kotak-kotak pada pinggir atapnya (entablature) sesuai dengan bentuk Istana Callenberg sebagai inspirasi desainnya. Secara komposisi, rumah Raden Saleh berbentuk formal atau simetri, yang memiliki focal point di tengah dengan bentuk yang sama di kedua sisi (kanan dan kiri). Sentuhan neo klasik bisa kita lihat ornamen pada tiang-tiang kolom klasik berbentuk doric dan penggunaan cornice (list dinding) yang tebal. Kemudian terdapat sentuhan neo klasik Perancis pada penggunaan bentuk tiang-tiang baluster yang khas pada balkonnya. Pintu-pintunya berukuran tinggi dan besar, sehingga terkesan mewah bak istana. Pada bagian ruang tengah yang berukuran besar, biasa digunakan sebagai ballroom untuk pesta.

Pada masa itu, Perhimpunan Penyayang Flora dan Fauna Batavia (Cultuur Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia), membutuhkan lahan untuk dijadikan tempat penelitian tanaman dan binatang (Planten-en Dierentuin). Namun pihak perhimpunan tidak mendapatkan lahan, dan akhirnya pada 1864, Raden Saleh menghibahkan halaman rumahnya di Cikini yang sangat luas, untuk di jadikan kebun tanaman dan binatang yang diinisiasi oleh Perhimpunan Penyayang Flora dan Fauna Batavia. Dalam perkembangannya Kebun tanaman dan Binatang Batavia, bukan saja tempat koleksi hewan dan tumbuh-tumbuhan, namun didalamnya juga ada tempat hiburan, macam bom-bom car, ruang menonton film, dan juga pernah dilangsungkan pertunjukan “Oedipus Rex” dengan latar panggung instalasi Kuil Yunani pada Agustus 1922. Nama dan foto Raden Saleh sendiri dicantumkan dalam buku peringatan 75 Tahun (1864-1939), Bataviasche Planten-en Dierentuin, sebagai anggota kehormatan atas kedermawanannya dalam menyediakan lahan bagi berdirinya kebun raya tanaman dan binatang. Dan kebun binatang ini berubah nama menjadi Taman Raden Saleh pada masa penjajahan Jepang, sampai akhirnya pada tahun 1964, pada masa Gubernur DKI Jakarta Dr. Soemarno dibentuk Badan Persiapan Pelaksanaan Pembangunan Kebun Binatang, yang akan dipindahkan ke daerah Ragunan Jakarta Selatan. Dan akhirnya pada 1966, diresmikanlah Kebun Binatang Ragunan oleh Gubernur DKI Jakarta Mayor Jenderal Ali Sadikin dengan nama Taman Margasatwa Ragunan.