Mess Puskomlekad Cagar Budaya
When examining Jakarta's urban layout during the colonial period, one can see a reflection of the colonial legal system that divided society into distinct racial and social categories. The Indische Staatsregeling, particularly Article 163, classified the population into three groups: Europeans, Foreign Orientals (including Chinese and non-Chinese Asians), and Native Indonesians (Bumiputera). This legal framework was not only a system of governance but also shaped the spatial organization of the city itself.
Walking along Kramat Street today, visitors can still find rows of houses dating back to the colonial era. These buildings are remnants of what was once the first elite residential development in Batavia, particularly in the Kramat V area. Originally intended for European and Dutch residents, Kramat became the prototype for later residential developments in Gondangdia and Menteng. Together, these neighborhoods illustrate how Batavia was planned as a series of residential clusters that mirrored the colonial hierarchy established under Article 163, with Menteng eventually emerging as the principal enclave for the European elite.
In the early twentieth century, the Batavia City Council began addressing the city's growing housing shortage. At the time, many middle- and upper-class residents struggled to find homes that were both affordable and of good quality. In response, the Bataviaasche Bouwmaatschappij (Batavia Building Company) was established in 1908 to develop well-designed houses that could be offered at reasonable prices.
Under the direction of the Dutch architect Pieter Moojen, Batavia's first planned elite housing estate was developed in Kramat under the name Kramatlaan (Kramat Park). Around 120 houses were designed as part of this innovative residential project, several of which—particularly the two-storey houses along Kramat Street—still survive today. The success of the Kramat development led Moojen to expand the concept into Menteng, where he introduced a more ambitious vision for Batavia's urban planning.
Menteng was designed according to the tuinstad, or garden city, concept, featuring excellent sanitation standards, European-inspired aesthetics, and generous private green spaces. Moojen's work marked an important shift in colonial architecture by adapting European planning principles to the conditions of the Dutch East Indies. His designs considered local climate, available building materials, landscape, and the skills of local craftsmen, producing an architectural approach that was both modern and responsive to its tropical environment.
The company responsible for developing Kramat, Menteng, and Nieuw Gondangdia (New Gondangdia) was N.V. Bouwploeg, whose headquarters occupied the building that is now Cut Meutia Mosque—another notable work designed by Pieter Moojen. The company's historical presence also lives on in Jakarta's culinary memory. The famous Gado-Gado Boplo restaurant derived its name from the local pronunciation of Bouwploeg, as it was originally located near the company's former headquarters.
Jika kita melihat tata kota Jakarta pada masa kolonial, sebenarnya kita seakan membayangkan pantulan dari undang-undang kolonial tentang warga, yang terbagi dalam tiga golongan. Undang-undang di masa kolonial yang dikenal dengan Indische Staatsregeling, khususnya pada pasal 163, membagi ketentuan penggolongan penduduk, yakni Golongan Eropa, Golongan Timur Asing (Tionghoa dan bukan Tionghoa) dan Golongan Bumi Putra (Pribumi). Dan Jika kita berlajalan-jalan di Jl. Kramat, Jakarta, kita bisa melihat beberapa bangunan rumah sisa dari bangunan yang di buat pada masa kolonial sebagai proyek perumahan elit pertama, salah satunya adalah di Kramat V., sebagai rancangan perumahan elit pertama di Jakarta (Batavia) yang notabene pada dasarnya adalah perumahan bagi orang-orang Eropa dan Belanda. Rancangan beberapa rumah di dalam tata kota di Kramat ini kemudian akan berkembang di daerah Gondangdia, Menteng, yang seakan tata kota Jakarta di rancang sebagai sistem kluster, yang membagi-bagi hunian berdasarkan golongan sebagaimana undang-undang kewargaan kolonial yang terbagi menjadi tiga golongan. Tata kota sistem kluster inilah yang kemudian, di wilayah Kramat, dan akhirnya bermuara di Menteng sebagai kluster yang menempatkan kaum elit atau kaum Eropa.
Pada awal abad ke-20, di Dewan Kota Batavia berlangsung perbincangan untuk keputusan mengatasi persoalan perumahan yang cukup parah di Batavia. Banyak warga Batavia pada masa itu, khususnya kalangan kelas menengah atas yang kesulitan mencari rumah yang berkualitas baik dan murah. Akhirnya pada 1908, didirikan Bataviaasche Bouwmaatschappij (Perusahaan Bangunan Batavia) didirikan dengan tujuan untuk membangun rumah-rumah yang berkualitas bagus, namun dengan harga terjangkau.
Melalui seorang arsitek asal Belanda, Pieter Moojen, pembangunan rumah elit pertama di Batavia, dengan harga yang terjangkau pada masa itu, dimulai di daerah Kramat dengan nama Kramatlaan (taman Kramat). Beberapa rumah tingkat dua, masih bertahan hingga kini, di beberapa wilayah di Jalan Kramat. Sekitar 120 rumah yang di rancang oleh Moojen, dengan rancangan yang cukup inovatif pada masa itu. Proyek di Kramati ini kemudian dilanjutkan di wilayah Menteng, sebagai bagian Moojen merevolusi tata kota Batavia. Konsep di Menteng sendiri, memiliki standar sanitasi yang sangat baik, dan estetika yang lebih Eropa, serta ruang hijau pribadi, dimana konsep ini dikenal sebagai tuinstad (kota taman). Keberadaan Moojen di Hindia Belanda, cukup membawa pembaharuan, khususnya bagaimana desain di Hindia Belanda, tidak lepas dari spasilitas landskap kota itu sendiri, termasuk cuaca, bahan yang tersedia, serta keberadaan sumber daya manusia yang mengerjakan bangunan.
Perusahaan yang membangun wilayah Kramat, Menteng dan Gondangdia Baru, bernama N.V. Bouwploeg, yang kantornya sekarang menjadi Masjid Cut Mutia, satu di antaraa gedung yang dirancang Pieter Moojen. Dahulu kala ada kuliner yang ternama di kenal dengan Gado-gado Boplo (pengucapan untuk Bouwploeg), karena terletak di sekitar gedung Bouwploeg.